Silatulfikri Pemuda Muhammadiyah Sepakati Lima Poin

23 Oktober 2016 13:02

Silaturahmi pemikiran atau Silatulfikri pemuda Muhammadiyah Mamuju menyepakati tiga hal yang merupakan langkah pemuda Mamuju dalam menyokong pembangunan daerah.
Ketua Pemuda Muhammadiyah Mamuju, Suryansyah menyebutkan, poin pertama adalah pemuda Muhammadiyah berada pada ranah membantu pemerintah dalam membangun karakter daerah yang berkearifan lokal.
“Ini sejalan dengan visi pemerintah daerah yakni mewujudkan Mamuju ramah. Hal ini juga disampaikan oleh bapak Irwan Pababari, Dimana ada keresahaan, jika ada perayaan ulang tahun yang merasakan ruh itu hanya unsur muspida. Nah, bagaimana pemuda turut membumikan semangat ini, setidaknya semua elemen berpakaian adat pada perayaan itu,” tuturnya mengikuti perkataan Wakil Bupati Mamuju.
Pointer kedua, ide dan gagasan pemuda jangan hanya terbentur pada tembok warung kopi, tembok sekretariat, ataupun tembok-tembok tempat diskusi lainnya, melainkan ide dan gagasan itu harus tersalurkan dengan baik dan disokong oleh Pemda, dan Pemda mestinya membuka ruang-ruang bagi pemuda.
“Adapun poin ketiga, adalah sikap spiritualisme pemuda sebagai bingkai kebersamaan. Sehingga spirit keberagaman dan etno nasionalisme harus senantiasa disuburkan. Sehingga tidak ada lagi OKP yang merasa disepelekan, spiritualisme pemuda erat kaitannya dengan saling menghargai kedudukan OKP,” terangnya.
Lanjut Suryansyah, point keempat dari silatulfikri ini adalah mendorong pembangunan skil kepemudaan. Sehingga pemuda dapat membuka lapangan kerja pemuda.
Poin terakhir adalah gerakan pemuda Mamuju Berkamejuan ditandai dengan perang pemuda terhadap apatisme pemuda. “Sehingga ada gerakan mempemudakan pemuda. Mempemudakan maksudnya adalah mengembalikan spirit berkemajuan, inovatif, kreatif, dan bebas nilai. Sehingga semangat ini didorong, siapa yang memenuhi indikator ini, maka dia pemuda,” jelasnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Mamuju, Irwan Pababari yang menitik tekankan bahwa Pemuda tidak mengalami kemunduran, melainkan pemuda hanya harus menafsir zaman yang dialaminya agar dapat mengakselerasikan gerakan.