Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia Kecam Pemukulan Guru

11 Agustus 2016 15:55
IMG-20160811-WA002

Andi Fajar Asti/Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia, Andi Fajar Asti, mengecam kejadian yang mencoreng dunia pendidikan, Rabu (10 /8 ).
Katanya, setelah kasus pemukulan oleh Dahrul guru SMKN 2 makassar terhadap salah satu siswanya yang malas mengerjakan tugas sekolah berakhir tragis. Oknum guru yang melakukan pemukulan terhadap siswa dan orang tua siswa yang membalas memukul akibat tidak menerima perlakuan Guru terhadap anaknya sama-sama di jadikan tersangka oleh kepolisian sektor Tamalate Makassar, kejadian ini sangat mencoreng dunia pendidikan dan sangat memalukan.
“Sebelum kejadian berlangsung, diawali cek cok antara siswa dan guru. Siswa yang tidak membawa alat menggambar Arsitek diberi hukuman mengerjakan tugas tambahan oleh gurunya dan disuruh duduk di belakang mengeluarkan kata-kata kotor kepada Guru Dahrul.
Sontak sang guru tidak menerima kata-kata kotor siswa tersebut, guru memberikan tamparan ke pada siswa tersebut. Tidak lama setelah siswa mengadu ke orangtuanya, maka datanglah orangtua membawa teman-temannya memukuli guru Dahrul dan hampir mengeroyok guru tersebut. Alhasil hidung guru bocor dan bercucuran darah.
“Tentunya ini sesuatu yang sangat disayangkan terjadi di lingkungan akademik. Dengan ini selaku Ketua Umum Himpunan mahasiswa pascasarjana Indonesia menyimpulkan beberapa analisis untuk mencegah agar kejadian ini tidak terulang kembali di sekolah yang notabenenya tempat lahirnya kaum terpelajar,” katanya.
Point pertama yakni mendorong pemerintah untuk mengevaluasi sistem pembelajaran di sekolah yang lebih manusiawi. “Kedua, Seharusnya masalah ini tidak perlu berakhir tragis sampai harus mentersangkakan sang guru selama punishment yang diberikan masih dalam kategori mendidik,” papar Fajar.
Point ketiga, lanjut dia, Punishment adalah sesuatu yg di perbolehkan selama melahirkan sikap positif kepada siswa. Tentunya punishment dilakukan secara terukur dan memberikan efek positif terhadap siswa.
Selanjutnya keempat, mendesak pemerintah untuk menerbitkan petunjuk teknis penerapan UU sisdiknas, UU perlindungan anak dan aturan pelanggaran HAM untuk wilayah kawasan pendidikan. Hal ini di maksudkan untuk menghindari ketakutan guru dalam proses pembelajaran disekolah yang rentan dengan tuduhan kekerasan dan pelanggaran HAM. Ini adalah celah sehingga banyak kasus guru di laporkan di kepolisian akibat mencubit, mencukur rambut siswa, menyuruh push-up, menjemur siswa dan lain-lain yg sesungguhnya masih dalam ranah mendidik.

“Point kelima, demi melindungi guru di sekolah untuk menerapkan etika peserta didik terhadap gurunya dan begitupun sebaliknya guru menghargai hak-hak siswa,” katanya.
Sementara Point terakhir, Fajar menuturkan perlunya membangun komitmen antara sekolah dan orang tua siswa melalui organisasi orangutua siswa disetiap satuan pendidikan untuk merelakan anaknya dibesarkan di lingkungan sekolah. Artinya bahwa selama di sekolah, maka yang menjadi orangtua siswa adalah gurunya.